Senin, 02 Maret 2009

Bahaya Kartu Kredit

BAHAYA KARTU KREDIT DAN KREDIT KONSUMEN (CONSUMER LOANS)

Dias Satria SE.,M.App.Ec.

(Dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Brawijaya)

Penggunaan kartu kredit dalam kehidupan modern tentu sudah tidak mungkin dapat dipisahkan lagi. Hal ini berkembang seiring dengan kemajuan teknologi, informasi dan peradaban manusia yang semakin modern, yang cinta akan kemudahan, life style dan inovasi.

Tumbuhnya penggunaan kartu kredit didukung dengan semakin berkembangkan akses penggunaan kartu kredit di setiap aktivitas bisnis di tempat-tempat perbelanjaan, serta kebutuhan masyarakat modern untuk dapat menikmati sistem pembayaran yang canggih dan simple.

Namun penggunaan yang berlebihan dalam kartu kredit dapat menyebabkan permasalahan yang serius bagi nasabah tersebut, serta issuer (Bank yang bersangkutan).

Permasalahan dalam penggunaan kartu kredit yang harus diwaspadai oleh nasabah, antara lain:

Pertama, Nasabah biasanya tidak mengetahui secara pasti penghitungan bunga yang rumit, yang dikenakan oleh bank. Nasabah juga harus lebih kritis dalam menerima tawaran bunga 0% atau rendah, jika mampu membayar pada jatuh temponya. Hal ini disebabkan karena biasanya bunga yang dikenakan setelah masa jatuh tempo akan semakin tinggi dari suku bunga rata-rata.

Kedua, Nasabah sebaiknya mengetahui secara pasti kemampuan keuangannya. Apakah dari sisi keuangan mereka telah mampu menggunakan kartu kredit atau belum!. Selanjutnya nasabah juga harus memahami bahwa biaya bunga dan fee yang dikenakan pada kartu kredit biasanya lebih tinggi dari suku bunga modal kerja atau investasi. Sehingga sebelum meminjam mereka sudah mengetahui beban bunga dan fee yang harus ditanggung.

Ketiga, Nasabah sebaiknya mengenal karakter pribadinya dalam mengatur keuangan. Jika mereka merasa bahwa manajemen keuangan pribadinya sangat buruk, maka penggunaan kartu kredit yang berlebihan akan membahayakan masa depan keuangan mereka. Hal ini semakin parah, jika penggunaan kartu kredit lebih dipentingkan karena alas an gaya hidup atau life style dibandingkan penggunaan yang rasional untuk berjaga-jaga (safety net).

Terakhir, Nasabah harus memahami bahwa penggunaan kartu kredit yang berlebihan dan tidak berhati-hati dapat menimbulkan permasalahan resiko penipuan (fraud risk). Hal ini mungkin terjadi pada kasus penggunaan internet, atau penggunaan di merchant-merchant kecil yang diragukan kredibilitasnya.

Tentu saja kewaspadaan dalam penggunaan kredit bukan berarti menghindarkan diri anda dari penggunaan sistem pembayaran yang modern, seperti: kartu kredit, karena sistem pembayaran yang maju ini tentu juga memiliki kemanfaatan yang juga luar biasa dalam aktivitas bisnis.

Namun penggunaan yang membabi buta, tanpa didasari dengan pemahaman, kemampuan dan karakter yang baik, tidak hanya akan merugikan diri anda sebagai nasabah. Namun juga akan membahayakan bagi issuer atau bank pengeluar kartu kredit. Dan, sistem perbakan dan keuangan secara umum.

Selanjutnya, kewaspadaan juga harus ditingkatkan oleh para issuer kartu kredit (Kredit konsumen) atau manajemen bank, yang saat ini mulai meraup keuntungan yang menjanjikan pada kredit konsumen (kartu kredit). Semakin tingginya penetrasi pasar pada kartu kredit (kredit konsumen) didorong oleh kemajuan teknologi informasi, yang memungkinkan penilaian nasabah dalam waktu yang singkat menggunakan model credit scoring yang canggih. Teknologi ini secara umum mampu menangkap motivasi, keadaan keuangan dan ekonomi seseorang, yang mencerminkan kelayakannya dalam mendapatkan kartu kredit (kredit konsumen).

Namun perlu difahami meski suku bunga kredit konsumen (kartu kredit) lebih tinggi dibandingkan dengan suku bunga modal kerja dan investasi, namun bukan berarti kredit ini tidak memiliki resiko kerugian yang besar pula.

Hal yang harus difahami oleh para issuer (manajemen bank) untuk menghindari resiko atau default tidak terbayarnya tagihan kartu kredit, adalah bahwa NPL (Non performing loans) atau macetnya pembayaran kredit konsumen (ex:kartu kredit) secara umum sangat terkait dengan siklus bisnis suatu perekonomian. Dimana jika perekonomian sedang mengalami pertumbuhan dan pembangunan, maka kemungkinan terjadinya default akan semakin kecil. Sebaliknya, jika perekonomian sedang mengalami resesi atau penurunan kinerja ekonomi maka sudah bisa dipastikan kemungkinan terjadinya default atau NPL akan semakin tinggi.

Di sisi lain, kredit konsumen memiliki tingkat resiko dan biaya yang tinggi. Pertama tingginya resiko kredit konsumen sangat berhubungan dengan kondisi keuangan, ekonomi seseorang atau keluarga. Sehingga jika nasabah terkena penyakit yang parah, kehilangan pekerjaan atau mengalami tragedi atau kecelakaan, maka akan mempengaruhi pembayaran kredit mereka. Kedua, biaya yang tinggi dari kredit konsumen terkait dengan nominal yang kecil dan jumlah yang banyak, sehingga meningkatkan biaya transaksi yang tinggi bagi bank.

Dalam konteks ini, maka manajemen asset yang tepat perlu untuk dilakukkan oleh manajemen bank, dengan tidak mendominasi peneterasi kredit di sisi kredit konsumsi. Diferensiasi dan antisipasi resiko tetap harus diperhitungkan untuk dapat meningkatkan keuntungan dan mengendalikan resiko yang tidak membahayakan bagi bank.

Bagi Nasabah, penggunaan kartu kredit dan pengajuan kredit konsumen tetap harus dipertimbangkan secara matang kemanfaatan dan biayanya. Sehingga keputusan tersebut tidak merugikan posisi keuangannya dimasa depan. (http://www.diassatria.web.id)

Tidak ada komentar: